Kartun Nabi dan Reaksi Umat

Pemuatan kartun yang digambarkan sebagai Muhammad SAW ini merupakan pelecehan
dalam dua sisi. Pertama adalah visualisasi nabi Muhammad yang jelas dilarang dalam agama. Dan kedua adalah ditampilkannya dengan sebuah sorban dari bahan peledak yang siap meledak.

Yang pertama bagi saya pribadi, bukanlah suatu hal yang terlalu luar biasa. Ada dua alasan: Pertama, karena gambar apapun yang dibuat sudah pasti hanya sekedar imajinasi yang bukan sebenarnya. Hingga saat ini belum ada orang yang bisa menggambarkan tampilan lahiriah Rasulullah SAW. Semua gambar yang dianggap gambar orang-orang lalu, seperti Isa AS, Maryam AS, dll., semuanya adalah palsu dan tidak sebenar nya. Sehingga pengakuan kartun itu sebagai Nabi Muhammad adalah kebohongan semata. Persis gambar-gambar yang diakui sebagai gambar nabi Isa yang ada di mana-mana sekarang ini.
Kedua, larangan menggambar Nabi Muhammad tentunya berlaku bagi umat Islam. Sebab sebuah aturan hukum Islam ditujukan untuk mereka yang percaya dengan agama ini. Bagi mereka yang mengkafirinya tentu susah mengharapkan untuk mengikuti aturan yang ada dalam agama ini. Beribu macam gambar yang mereka telah lakukan, khususnya jika disearch di internet. Oleh karenanya, saya tersinggung dengan gambar yang disebutkan sebagai gambar Nabi Muhammad, tapi saya sadar mereka yang melakukan itu memang tidak terikat dengan hukum agar tidak memuat gambar tersebut.

Justeru, menurut saya pribadi, aspek kedua dari kartun itulah yang paling menyakitkan bagi umat ini. Nabi Muhammad digambarkan sebagai seseorang yang siap melakukan pembunuhan, apalagi dengan sorban yan g dipakai dikepala seperti bom yang siap meledak. Artinya, Nabi Muhammad itu memang mengajarkan “suicide bombing” yang tidak saja membunuh orang lain, tapi juga dirinya sendiri.

Penggambaran ini sangat menyakitkan. Muhammad SAW bagi seorang Muslim adalah sosok yang sangat dicintai, bahkan melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah menegaskan: "Tidak beriman di antara kalian hingga dia mencintai aku lebih dari mencintai dirinya, orang tuanya, dan anaknya”. (Al-Hadits). Umar pernah ditanya olehnya, “Apakah kamu cinta kepada Rasulullah wahai Umar?, Beliau menjawab: “Betul wahai Rasulullah SAW, tapi tidak melebihi kecintaan saya kepada diri saya sendiri. Rasulullah berkata: “Tidak wahai Umar. Kalau kamu cinta kepada Rasulullah, kecintaan itu harus melebihi dari kecintaan kamu kepada diri kamu sendiri”.

Sejenak Umar diam, lalu berkata, “Saya mencintai engkau wahai Rasulullah lebih dari kecintaan saya pada diri saya sendiriâ”. Rasulullah kemudian berkata: “Itulah makna kecintaan kepada Rasulullah wahai Umar”. (Hadits).

Dengan demikian, pelecehan kepada Rasulullah adalah bentuk pelecehan yang lebih menyakitkan ketimbang kepada diri umat Islam itu sendiri. Dan keinginan untuk membela Rasulullah lebih dari keinginan untuk membela diri sendiri. Inilah rahasianya, umat Islam saat ini bereaksi keras terhadap pembuatan kartun tersebut.

Selain itu, penggambaran Rasulullah sebagai "suicide bomber” secara langsung pula tuduhan kepada semua pengikutnya sebagai “suicide bomber”. Hal ini dikarenakan bahwa Muhammad SAW adalah ‘uswatun hasanah’ (contoh tauladan) bagi setiap Muslim. Sehingga kalau yang terbaik saja adalah pembunuh, maka semua yang mengikutinya juga adalah pembunuh. Maka tuduhan kepada Nabi Muhammad itu juga tuduhan kepada semua umat Islam di seatero dunia. Inilah yang menja dikan umat bereaksi hampir di semua penjuru dunia.

Pelecehan akal jernih

Penggambaran Rasulullah sebagai tukang bunuh itu adalah pelecehan akal sehat manusia, sekaligus pelecehan peradaban manusia yang dianggap modern itu. Sejarah membuktikan bahwa Muhammad SAW tidak saja dikagumi oleh pengikutnya, tapi beribu orang lain juga mengaguminya. Mulai dari Gandhi hingga ke Bernard Show dan ribuan intelektual dalam berbagai bidang telah memberikan pujian tinggi kepadanya.

Pada saat ribuan manusia di dunia barat masuk ke agama ini karena kagum kepada ajaran Rasulullah, masih ada segelintir manusia yang tertutupi oleh kebodohannya sendiri. Setiap hari puluhan atau mungkin ratusan non Muslim di dunia barat mengikuti ajaran Muhammad SAW. Ternyata masih ada segelintir mereka yang mengaku ‘civilized’ itu buta melihat ‘kenyataan’ di hadapan mata mereka sendiri. Mereka yang mengikuti ajaran Muhammad itu karena mereka m emang ’intelligent’(cerdik), dan bukan karena sekedar ikut-ikutan atau disuap para da’i seperti yang banyak terjadi dan dilakukan oleh para missionary di dunia lain.

Oleh karenanya, diterbitkannya kartun yang menggambarkan Rasulullah SAW sebagai pembunuh itu adalah pelecehan yang nyata terhadap pikiran sehat manusia. Hanya mereka yang tidak memiliki pikiran sehat, dan hanya mereka yang buta realita dan sejarah yang memahami Rasulullah dengan persepsi yang seperti itu.

Freedom of Expression?

Alasan yang dipakai oleh harian Denmark untuk tetap bersikukuh tidak ingin meminta maaf adalah bahwa apa yang telah dilakukanya adalah kebebasan berpendapat atau freedom of expression. Bagi mereka, mempermainkan orang-orang panutan seperti Isa, Muhammad, Musa, dll., adalah hal biasa dan tidak ada apa-apanya untuk dipusingi.

Tapi benarkah menggambarkan seorang nabi sebagai ‘suicide bomber’ adalah sekedar kebeba san ekspresi? Nampaknya ada semacam ‘confusion’ di kalangan masyarakat barat dalam mengartikan kebebasan. Seolah kebebasan itu tidak memiliki pertimbangan-pertimbangan yang justeru membatasinya, sehingga kebebasan dapat dipertanggung jawabkan.

Bebas bereskpresi tapi sekaligus menyakiti orang lain adalah sebuah eskpresi yang tidak bertanggung jawab. Oleh karenanya, kebebasan apa saja, termasuk kebebasan ekspresi mau tidak mau harus berlandaskan kepada sebuah tanggung jawab individu maupun social. Jika tidak, maka hidup ini akan menjadi kacau karena pelecehan kepada orang lain terjustifikasi oleh kebebasan (freedom).

Sebagai contoh, ada sebuah kebebasan yang disebut kebebasan memilih (freedom of choice). Setiap orang bebas memilih sesuai pilihan masing-masing. Tapi apakah memilih isteri orang untuk dipacari dapat dianggap ‘freedom of choice’ yang sehat? Dapatkah sikap ini dianggap sebagai kebebasan yang harus dihorm ati, atau sebaliknya sang suami berhak melakukan pembelaan?


Clash between Civilizations

Saya curiga, jangan-jangan kartun ini adalah pancingan lanjutan untuk menjustify kebenaran clash among civilizations, khususnya antara Islam dan dunia Barat. Nampaknya harian Denmark ini telah menjadi alat untuk memancing reaksi keras umat yang mengarak kepada clash permanent. Seolah-olah konsepsi-konsepsi barat seperti kebebasan tidak sama sekali sejalan dengan values yang dimiliki oleh Islam. Dan karenanya, memang konsep clash itu adalah benar.

Jika ini benar, maka sungguh manusia berada dalam jurang yang sangat berbahaya. Kita hidup dalam dunia "interdependable", di mana satu komunitas membutuhkan yang lain. Oleh karenanya, jika konsep clash among civilization dipromosikan secara vulgar, maka sekali lagi manusia berada dalam situasi yang serius.

Reaksi yang Islami

Umat Islam tentunya berhak untuk melakukan reaksi ke ras atas pelecehan terhadap panutan umat ini. Muhammad adalah bagian mendasar dari keimanan seorang Muslim. Keyakinan kepada ‘Laa ilaaha illah Allah’ tidak akan terwujud jika eksistensi Rasulullah terabaikan. Maka ‘Muhammadan Rasulullah’ adalah bagian kedua syahadat yang mutlak keberadaannya.

Oleh karena ini menyangkut masalah iman, maka sangat wajar jika menjadi sebuah hal yang sangat sensitif. Menyangkut sebuah ‘perasaan’ yang bisa saja membara. Penggambaran nabi Muhammad yang menyulut amarah iman pengikutnya. Apalagi, akahir-akhir ini memang masalah agama, dan khususnya Islam, menjadi sebuah penomena sensitif, yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan semua pihak.

Namun demikian, reaksi umat Islam seharusnya mengingatkan kita sebuah ayat: “Dan jika kami mencintai Allah, maka ikutlah kepadaku”. Artinya kecintaan kita kepada Allah SWT, dan dengan sendirinya juga kepada nabiNya, seharusnya digambarkan den gan mengikut kepada bagaimana kehidupan Rasulullah SAW. Sebuah kehidupan yang tegar dengan kebenaran, dan dengan menempuh cara-cara yang ‘non violent’.

Sepanjang sejarah hidup Rasulullah SAW, beliau tidak pernah menempuh cara kekerasan untuk mencapai tujuan, kecuali dalam posisi mempertahankan diri. Artinya, metode Rasulullah dalam upaya mencapai tujuan mulia tidak pernah diekpresikan dengan cara-cara kekerasan.

Kita diingatkan bahkan jauh sebelum diangkat menjadi Rasul sekalipun, beliau telah menunjukkan karakternya, tidak saja sebagai seseorang yang cinta damai, tapi lebih dari itu beliau adalah inisiator perdamaian. Kita diingatkan oleh kisah pengembalian ‘Hajar Aswad’ ke tempat aslinya, yang hampir saja menjadikan pertumpahan darah di antara pemimpin kabilah-kabilah Arab. Beliaulah yang melahirkan ide cemerlang sehingga terhindarilah pertumpahan darah tersebut.

Kita diingatkan oleh beliau ketika keluar ke kota Thaif mencari peluang da’wah. Di sana justeru beliau dilempari batu oleh orang-orang gila dan anak-anak hingga darah beliau mengucurkan darah. Di saat-saat beliau terduduk kelelahan dan kehausan, datanglah malaikat menawarkan: “Jika engkau mau wahai Muhammad, maka gunung ini akan saya balik dan menghancurkan mereka semua”, katanya. “Tidak. Saya datang bukan untuk memusnahkan tapi untuk membawa petunjuk“, jawab Rasulullah SAW.

Beliau kemudian berdoa dengan doa yang cukup panjang. Tapi salah satu isi doa yang terkenal itu: “Ya Allah tunjukilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak tahu”.

Rasulullah mengingatkan kita di saat beliau melakukan persetujuan dengan pembesar Mekah di awal tahun Hijrah. Salah satu isi perjanjian itu adalah, bahwa jika ada Muslim yang melarikan diri ke Madinah, maka Rasulullah harus mengembalikannya ke Mekah. Sebaliknya, jika ada yang masuk ke Mekah, maka tidak ada kewaji ban pembesar Mekah untuk mengembalikannya ke Madinah. Sebuah perjanjian yang berat sebelah, tapi diterima demi menjaga perdamaian.

Perjanjian ini juga mirip dengan perjanjian Hudaibiyah di kemudian hari. Bahkan Umar sempat protes dan tidak menerima persetujuan tersebut. Namun Rasulullah menerima perjanjian yang berat sebelah itu demi terjaganya perdamaian antara kaum Muslim di medinah dan kaum kafir di Mekah.

Mungkin bukti sejarah yang paling menakjubkan adalah sejarah penaklukan kota Mekah oleh Rasulullah SAW. Sepanjang sejarah hidup manusia telah banyak sejarah penaklukkan dan peperangan. Tapi satu-satunya penaklukan yang tidak menimbulkan pertumpahan darah, bahkan “general amnesty” segera diumumkan segera setelah Rasulullah dan pasukannya memasuki kota Mekah.

Bukti-bukti sejarah di atas dan terlalu banyak lagi yang tercatat oleh tinta emas sejarah Rasulullah SAW menunjukkan prilaku alami (the natural manner of ) Rasulullah SAW. Beliau adalah sosok yang bukan saja cinta damai, tapi telah membuktikan ‘kedamaian’ yang hakiki dalam kehidupannya.

Maka, dalam melakukan reaksi ini seharusnya mengikut kepada ‘uswah hasanah’ ini. Bukan dengan kekerasan dan tidak pula melakukan reaksi dengan melakukan hal-hal yang justeru bisa dijadikan ‘justifikasi’ oleh pihak lain untuk membenarkan tuduhan-tuduhan jahat mereka. Mereka ingin mendapatkan justifikasi lanjut bahwa umat Islam itu keras, emosional dan tidak rasional dalam berpikir.

Padahal, rasionalitas kita mengatakan membela kehormatan Rasulullah adalah sebuah tanggung jawab. Namun mereka akan membalik logika ini dengan mengatakan bahwa memang ‘nature’ orang-orang Islam itu adalah emosional dan kurang rasional.

Akhirnya, mari kita ingat ayat Allah: “Dan hamba-hamba Yang Maha Rahman adalah mereka yang berjalan di atas bumi ini dengan rendah hati. Dan jika orang-orang jahil menyapanya (mengganggunya) mereka merespon ‘salaamah’ (peace)”. (Al Furqan).

Kita juga seharusnya ingat: “Kebaikan dan keburukan itu tidaklah sama. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, sehingga orang yang bermusuhan dengan engkau seolah-olah sebagai teman yang setia”. (Fusshilat: 34).

“Allahumma ihdi qaumi fa innahum laa ya’ lamuun” Amin!



Previous
Next Post »

Selamat Datang Sahabat....
Silahkan tinggalkan komentar dan saran


Out Of Topic Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon

Thanks for your comment